KNOWLEDGE

ANANDA SUKARLAN (PIANIS) : PERAN INDUSTRI MUSIK DI INDONESIA TERHADAP EDUKASI ANAK

“Menerapkan Kembali Metode Pendidikan Ki Hajar Dewantara”

JakartaARSNewsy-, Karya musik dan lagu  itu sepatutnya mengandung unsur edukasi serta memberikan inspirasi kepada anak-anak dan para remaja. Apalagi pendidikan seni dan musik ini juga menjadi tanggung jawab pemerintah sebagai pembuat kurikulum.

Ananda Sukarlan Metode Dari SuaraSelain kurikulumnya harus lebih simpel, anak pun harus dibebaskan untuk membangun identitas dirinya sendiri.  Jangan dicekokin harus bernyanyi lagu apa dan harus memainkan instrumen apa.  Karena itulah yang sedang terjadi di dunia pendidikan kita.

Musik mulai memasukkan unsur edukasi dan inspirasi didalam syair atau liriknya dimana musik itu sudah mulai di tahun 1920 -an. Sementara kita sudah memiliki tokoh pendidikan yang hebat yakni RM. Suwardi Suryaningrat atau yang lebih terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Dialah yang memiliki metode Sari Suara, dimana pendidikan itu berasal semuanya dari seni, terutama seni musik.

Seperti diketahui, Ki Hajar Dewantara saat di Belanda pernah bertemu dengan Mariam Montessori. Dan keduanya mempunyai metode pendidikan yang hampir mirip. Tapi saat itu di Indonesia justru menggunakan metode Montessori padahal di Indonesia lebih cocok dengan metode Ki Hajar Dewantara. Montessori adalah orang Italia, orang barat, dan mungkin orang-orang berfikir kalau kita pakai metode barat pasti lebih keren.

Padahal kalau kita pakai metodenya Ki Hajar Dewantara untuk pendidikan, untuk saat ini (dimana pada saat ini pendidikan seni itu cukup parah, red) di sekolah-sekolah pada umumnya di Indonesia, maka itu akan sangat baik sekali untuk generasi muda Indonesia kedepan. Karena metode Ki Hajar Dewantara mengaktifkan otak bagian kanan yang berhubungan dengan segala hal tentang kreatifitas dan imajinasi.

Jadi kita mesti lihat lagi metode Ki Hajar Dewantara untuk pendidikan anak-anak di Indonesia, terutama di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Metode Ki Hajar Dewantara disebut Sari Suara itu adalah mengajarkan semua ilmu pengetahuan itu lewat musik dan lirik lagunya, sehingga terasah otak bagian kanannya. Hal inilah yang paling penting pada saat ini bahwa otak kanan kita itu mengalami degradasi bukan hanya di Indonesia tetapi hampir di seluruh belahan dunia.

BACA JUGA :  H. Sarmili Caleg DPRD Provinsi Banten Ajak Para Media Kawal Pemilu 2024

Sebagai contoh, kita bisa lihat misalnya perbendaharaan kata yang dipakai di jaman Shakespeare kurang lebih menggunakan 31.600 lebih kata-kata bahasa Inggris. Sedangkan bahasa Inggris modern saat ini hanya 20.000 kata. Jadi sejak jaman Shakespeare sampai sekarang lebih kurang 400 tahunan lebih bahasa Inggris kehilangan kata sekitar 1.600 kata. Bagaimana dibanding dengan perbendaharaan kata di Indonesia ?.

Perbendaharaan kata yang berkurang menunjukkan bahwa kita sudah tidak punya imajinasi lagi. Dimana kita melihat ya sudah melihat saja, padahal melihat itu ada berbagai cara dan itu membuat sesuatu atau cara berkomunikasi kita lebih spesifik dan kita bisa lebih berimajinasi. Hal-hal seperti itu yang sekarang ini sungguh berkurang.

Jadi menurut saya metode yang di ajarkan Ki Hajar Dewantara itu bisa diaplikasikan lagi ke pendidikan di Indonesia itu akan membuat manusia Indonesia akan lebih maju, dan bukan hanya maju secara teknis dan ilmu pengetahuannya tetapi juga secara kreatif dan imajinatif.

Bahkan dunia pendidikan seni itu bukan semata tentang itu itu saja. Pendidikan seni justru membebaskan siapapun berfikir tentang apapun. Jadi anak-anak itu terus berfikir secara imajinatif dan berfikir secara kritis.

Adalah tanggung jawab pemerintah, lalu guru-gurunya, dimana semua dibikin menjadi gampang karena semuanya diseragamkan. Keseragaman anak didik bukanlah keberagaman sebetulnya. Karena dengan keberagaman mereka, semakin mereka mengenal diri mereka sediri dan kemudian mengenal identitasnya. Kalau sampai semua anak itu diseragamkan sama saja kalau kita dikebun binatang padahal setiap orang itu berbeda. Setiap orang berbeda, kita punya kelebihan dan juga kelemahannya, jangan sampai kita itu diseragamkan.

Orang itu ngak perlu semuanya harus mengerti, sama seperti Bill Gates, kalau dia diajarin piano, dia tidak akan jadi seperti Bill Gates yang sekarang. Sama juga seperti saya kalau saya disuruh kutak-katik soal microsoft atau soal program komputer, saya tidak akan jadi siapa-siapa karena saya tidak mengerti hal itu.

BACA JUGA :  TANGGAPAN WAKIL GUBERNUR BALI ATAS PERNYATAAN MENTERI PARIWISATA 'JADIKAN BALI SEBAGAI PARIWISATA RAMAH MUSLIM' 

Ananda Sukarlan Metode Sari SuaraJadi dunia pendidikan itu adalah bagaimana melihat potensi anak itu, bukannya anak itu supaya bisa pinter dalam segala hal.

Peran industri musik di Indonesia terhadap edukasi anak itu harus di kritisi karena industri musik itu adalah yang penting musik itu gampang dicerna. Padahal seni itu beda dengan hiburan. Karya seni yang baik belum tentu menghibur, karena itu adalah ekspresi yang paling dalam dan jujur. Jadi justru bisa bikin sedih atau marah. Itu sebabnya juga kualitas artistiknya tidak bisa dinilai dari segi finansial.

Seperti Film Box Office yang belum tentu memiliki kedalaman artistik, walaupun ada box office yang bernilai tinggi. Bahkan biasanya film Hollywood didesain untuk menghibur saja, tanpa memikirkan kedalaman ekspresinya. Film Dead Poets Society itulah yang telah mengubah hidup saya.

Melalui tema Musik Untuk edukasi dan Inspirasi dalam rangka inspirasi musik anak bangsa, mengajak serta sekaligus mengingatkan bahwa daya tangkap kita dalam bagian kreatif dan imajinatif itu sangat turun, dan sebenarnya dengan metode Sari Suara  dari Ki Hajar Dewantara kita bisa membuat manusia Indonesia menjadi jauh lebih unggul. (rls; foto dok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *