ART & CULTURE

FESTIVAL LENONG BETAWI 2019 BAMUS BETAWI MEMADUKAN LENONG DENES DAN LENONG PREMAN

JakartaARSNewsy-, Setiap zaman pasti ada perubahan seni drama Betawi yang dibentuk untuk menjaga tema sehingga tidak luntur oleh zaman. Ada pengembangan terhadap perkembangan seni lenong, memadukan lenong dengan kekinian dan menyesuaikan di era milenium namun tetap memiliki pakem-pakem. Terbukti Lenong Denes dan Lenong Preman dipadukan dengan kekinian, sehingga generasi hari ini bisa menikmati lenong dengan baik. Demikian dikemukakan Wakil Ketua Umum Bamus Betawi, Drs. Tahyudin Adityas (Ketua Pelaksana Festival Lenong Betawi) disela sela perhelatan FESTIVAL LENONG BETAWI BAMUS BETAWI bertema “Melestarikan dan mengembangkan Budaya Betawi”,  Minggu 6 Oktober 2019, Hotel Grand G7, Jl. Garuda, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Wakil Ketua Umum Bamus Betawi, Drs. Tahyudin Adityas “Saya yakin bahwa semua lenong itu punya karakter yang hampir sama, cuma mungkin ada karakter berbeda. Mungkin dari bahasanya, logatnya, dan sebagainya. Tapi mudah-mudahan dengan adanya kesamaan tujuan kita memahaminya dengan baik. Pelestarian budaya Betawi salah satunya banyak melahirkan lenong, tapi yang jelas kita memadukan ada dua jenis lenong Denes dan lenong Preman. Untuk hari ini mungkin bisa disebut hanya sebagai prototipe saja untuk menemukan titik singgung. Dan tadi ada keselarasan antara lenong tradisional dengan modern yang bisa diterima oleh kaum milenial,” ujar Tahjudin Adityas.

Agenda festival lenong diagendakan setiap tahun dan menjadi agenda resmi Badan Musyawarah (Bamus) Betawi. Festival kali ini mengundang 10 grup lenong yang tersebar di lima wilayah Jakarta, antara lain Lenong Gema Beta Daya, Sanggar Jiih Kemandoran, Lenong LSBB, Lenong PSBB HKS, Lenong FKPBB, Blantek Ibnu Sina, Lenong Kampung Silat Petukangan, Theater Kawan, Sanggar Fandus, dan Sanggar Abang Rawa Belong. Festival lenong ini bukan mencari pemenang, tetapi seluruh peserta yang ikut menjadi kewajiban untuk tampil bagus.

Sementara Dinas Pariwisata DKI Jakarta berharap festival ini akan melahirkan rekomendasi kepada kita bahwa drama tradisional Betawi sebetulnya punya karakter sendiri untuk dapat disinkronisasi antara Seni Budaya lainnya yang ada di Jakarta. Ada apresiasi dan ada semangat lebih lagi dengan mencintai budaya Betawi yang tumbuh dengan baik. Tentu tak menafikan harapan group group  lenong ini dapat tampil di televisi.

BACA JUGA :  KETUM DHARMA PERTIWI HADIRI OPENING CEREMONY GELAR BATIK NUSANTARA LESTARI TAK BERBATAS 

H.Syarif Hidayatullah SIp.Sekertaris Jendral Bamus Betawi

Pada kesempatan yang sama H.Syarif Hidayatullah Sip.Sekertaris Jendral Bamus Betawi, menjelaskan bahwa program ini, termasuk dari 24 program yang dilaksanakan oleh Bamus Betawi pada tahun 2019. Harapannya selain basic cultural budaya Betawi dapat diserap, tapi Inovasi dan pengembangan budaya Betawi juga dilakukan dengan tetap berada pada pakemnya. Seperti penyelarasan cerita-cerita yang berlaku sekarang dan masa datang.

Disamping Bamus Betawi juga tengah mengadakan pendataan melalui Wakil Ketua Umum Bamus Betawi, termasuk melalui Festival Lenong ini sehingga data-data yang terbarukan akan menjadi catatan buat Bamus  Betawi untuk melakukan program-program berkesinambungan lainnya, jelas Sekjen Bamus Betawi, Syarief Hidayatullah.

Wakil Ketua Umum Bamus Betawi, Drs. Tahyudin Adityas bersama pemain Lenong Betawi

Sedangkan Herman Yahya, selaku pengamat, sekaligus juri Festival Lenong Bamus Betawi 2019, mencatat bahwa sangat luar biasa ketika Badan Musyawarah (Bamus) Betawi yang dipimpin Haji Lulung AL. SH, melakukan inovasi-inovasi baru tentang kebudayaan dan kesenian Betawi. Sebelumnya menggelar Festival Tari Kreasi Betawi, sekarang dengan Festival Lenong. Dan justru Bamus Betawilah yang notabenenya akan diisi oleh para seniman intelektual Betawi, sepatutnya merumuskan bagaimana kaidah-kaidah tentang kebudayaan Betawi sendiri, khusus juga kepada Lenong.

“Karena kalau kita masih stagnan pada masa lalu, budaya betawi tidak akan berkembang dan maju. Di sini ada inovasi, ada kecerdasan dalam menuturkan cerita, meski pengadegan-pengadegan secara hukum panggung perlu diasah lagi. Baik komposisi blocking, atau pengkarakteran, harus diarahkan. Tata panggung dari plot itu sendiri pun masih linier. Lenong Betawi punya nilai jual untuk bisa ditampilkan di luar negeri. Apalagi mengingat suku Betawi itu lebih cerdas meski keliahatannya lugu, ceplas-ceplos, dan spontanitas. Disamping  mampu berpantun, sangat religius dan memiliki ilmu bela diri silat,” papar Herman Yahya didampingi juri lain Abdul Aziz, dan Bahan bin Pitung.

BACA JUGA :  PELANGI NUSANTARA TMII GELAR TARI RAMAYANA

Bang Suaeb kemarin dia menyanyi lenong dengan bahasa Inggris. Ini sesuatu yang gila. Artinya orang-orang asing itu bisa menerima budaya Lenong. Seni Lenong itu bisa tampil dengan bahasa Inggris atau dengan bahasa apa saja. Kita harus  universal kalau memang kita mau mengangkat eksistensi lenong itu sendiri, ungkap Herman menyakinkan.

Wakil Ketua Umum Bamus Betawi, Drs. Tahyudin Adityas

Fetival Lenong Betawi 2019 oleh Badan Musyawarah (Bamus) Betawi, ada transfer pengetahuan, pengalaman di antara pemain, ada pakem pakem yang disepakati, mendorong titik temu itu sehingga melahirkan sesuatu yang baru, mereka harus dibekali hukum-hukum panggung yang bagus, di dalam lenong ada komunikasi dengan penonton, ideologi orang Betawi sudah jelas ngaji dan silat. Jadi ketika bicara tentang ideologi Betawi, jangan mereka menukar ideologinya. Dan hari ini luar biasa karena banyak animo masyarakat penggiat seni budaya ikut dalam festival ini, meski dibatasi baru 10 group yang kita hadirkan, tutup Wakil Ketua Umum Bamus Betawi, Drs. Tahyudin Adityas, juga selaku Ketua Pelaksana Festival Lenong Betawi 2019. (bc; foto lela)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *