ART & CULTURE

50 KARYA KOLEKSI NEGARA 40 SENIMAN DARI LINI TRANSISI MENEMUKAN KEMBALI PEMAHAMAN BARU MASA LALU KITA

JakartaARSNewsy,-

“Para seniman justru mampu ‘menemukan (kembali)’ pemahaman yang baru tentang masa lalu kita; lalu mengingatkan kita bersama tentang pentingnya sesuatu hal atau perkara yang kita idamkan terjadi di masa depan” (by penyair Isak Dinesen).

Inilah kolaborasi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Seni, Museum Sejarah Jakarta, UP Museum Kesejarahan Jakarta, Museum Bank Indonesia dan Galeri Nasional Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang menghadirkan 50 Karya Koleksi Negara dari 40 Seniman, yang bertajukkan Lini Transisi, dalam Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional #2,.

Pameran yang dikuratori Tim Kurator diantaranya Suwarno Wisetrotomo, Rizki A. Zaelani, Teguh Margono, dan Bayu Genia Krishbie, sebagai bagian dari upaya mengapresiasi seniman dan juga karya-karyanya, serta menyelamatkan aset negara, juga sekaligus melestarikan warisan serta identitas bangsa, demikian ujar Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto.

Jadi secara keseluruhan presentasi materi pameran ini hendak menampilkan potensi besar dari karya-karya penting milik negara yang tersebar di berbagai tempat untuk kita temukan dan kenang secara bersamaan. Dan “Lini Transisi” merupakan gagasan mengenai perubahan atau peralihan yang dimaknai sebagai dimensi paradigma estetik serta konteks sosio-kultural yang melatarbelakangi perkembangannya, ungkap kurator Suwarno Wisetrotomo.

Atau dengan kata lain, mengkaji apa yang ditunjukkan gagasan para seniman melalui karya-karyanya (yang tersurat) tapi juga memahami makna-makna tersembunyi dari berbagai pokok persoalan yang ‘tidak’ ditunjukkannya (yang tersirat), tambahnya.

Sementara kurator Rizki A. Zaelani mencatat pameran “Lini Transisi” adalah cara untuk menemukan karya-karya yang menunjukkan tanda-tanda perubahan penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia, khususnya di era peralihan rezim pemerintahan Indonesia yang berbeda selepas era kemerdekaan. Dan karya-karya yang ditampilkan pada pameran ini adalah karya yang dikerjakan para seniman dengan cara atau intensi penciptaan yang tidak ‘biasa-biasa saja.

BACA JUGA :  KONSEP BARU PENATAAN ULANG PAMERAN TETAP KOLEKSI GALERI NASIONAL INDONESIA

Pameran “Lini Transisi” mencoba mengumpulkan tanda-tanda penting —mulai dari karya-karya dengan kecenderungan kontekstual, abstrak, serta kecenderungan ‘dekoratif’— yang secara umum saling menunjukkan berbagai irisan pengaruh dan persoalan yang berkaitan. Pameran ini mencoba mengetengahkan berbagai kemungkinan dari tanda-tanda ekspresi seni yang dikerjakan para seniman Indonesia melalui cara-cara penciptaan yang khas dan tertentu, lanjut Rizki.

Selain dipresentasikan melalui pameran yang berlangsung 2-31 Agustus 2019 di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia, konsep ini juga diangkat dalam Program Publik berupa Tur Galeri dan Diskusi Seni Rupa yang mengetengahkan dua topik bahasan. Pertama, “Koleksi Negara Penanda Indonesia: Patung Dirgantara” bersama Yuke Ardhiati (Peneliti Karya-karya Soekarno) dan Asikin Hasan (Kurator Galeri Nasional Indonesia), Sabtu, 10 Agustus 2019. Sedangkan “Sejarawan Bicara Jakarta” bersama JJ Rizal (Sejarawan, Penulis, dan Pendiri Komunitas Bambu) dan Suwarno Wisetrotomo (Kurator Galeri Nasional Indonesia), Sabtu, 24 Agustus 2019.

Catatan lain dari sejarawan seni rupa Indonesia, Prof.Dr. M. Agus Burhan, M.Hum menorehkan hadirnya paradigma estetik tertentu yang menunjukkan sebuah kecenderungan umum ‘arus’ perkembangan seni rupa yang berlaku secara dominan. Seperti paradigma Romantisisme-Eksotis pada masa awal perkembangan seni rupa modern di Indonesia sejak awal abad ke-20 hingga tahun 1930–an.

Kemudian sejak tahun 1938 hingga tahun 1965, berlangsung paradigma estetik yang disebut Kontekstualisme-Kerakyatan yang berkembang semasa kekuasaan politik Orde Lama Indonesia. Lalu selepas tahun 1966, atau semasa dimulainya kekuasaan politik era Orde Baru Indonesia, berkembang paradigma estetik yang disebut sebagai prinsip seni Humanisme-Universal yang berlangsung hingga penghujung tahun 1980–an. Padahal prinsip Humanisme-Universal dalam praktiknya sebenarnya sudah mulai tumbuh sejak tahun 1950¬–an. Namun kecederungan itu terpaksa berkembang secara ‘terbatas’ akibat dominasi pengaruh prinsip Kontekstualisme-Kerakyatan yang berlaku sebagai paradigma.

BACA JUGA :  TARI SEKAR CINIDRO INSPIRASI NYI AGENG SERANG

Sekitar tahun 1974 dan kemudian berlangung kembali sekitar tahun 1987, berkembang juga usaha ‘perlawanan’ estetik yang dilakukan para seniman muda terhadap prinsip Humanisme-Universal yang berlaku dominan. Perlawanan para seniman muda ini yang kini dipahami sebagai gejala pendahulu era seni rupa kontemporer atau proto-seni rupa kontemporer Indonesia.

Oleh karenanya, pameran “Lini Transisi” ini membatasi penampilan karya-karya yang diciptakan para seniman Indonesia dari sejak tahun 1950–an hingga tahun 1980–an saja. Dengan kata lain, materi pameran ini membatasi perkembangan karya-karya seni rupa hingga sebelum dimulainya era seni rupa kontemporer Indonesia.

Sebagai catatan akhirnya, Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto, menyebutkan ada tiga poin penting dalam penyelenggaraan pameran ini. Pertama; kerja sama antarinstansi dan institusi pemerintah merupakan suatu perwujudan upaya bersama antarlembaga pemerintah dalam mengumpulkan data, mendokumentasikan, mempublikasikan, serta perlindungan terhadap karya-karya seni rupa koleksi negara.

Kedua; dengan mempublikasikan karya-karya koleksi negara ke hadapan publik, maka hal tersebut merupakan suatu bentuk pertanggungjawaban negara dalam memberikan kesempatan dan akses kepada publik untuk mengapresiasi, mendapatkan pengetahuan atau wawasan, serta mempelajari lebih dalam terkait seniman maupun karya seni rupa koleksi negara Indonesia.

Dan Ketiga, yang terakhir; gelaran ini tidak hanya untuk menampilkan karya seni rupa koleksi negara untuk dinikmati saja, melainkan sebagai upaya untuk menjamin keberlangsungan karya tersebut sehingga dapat diketahui dan dimanfaatkan secara positif oleh generasi masa depan.

( YAP; foto dok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *