ART & CULTURE

KAMISKETSA GALNAS CAT AIR DALAM KARYA DKETSA, CAT AIR MILIK SEMUA ORANG

JakartaARSNEWSY,-

Zaman bergerak, seni rupa berkembang, lukis cat air kini bukan hanya milik para perupa profesional, namun telah masuk ke segala ruang aktivitas siapapun. Kini cat air merebak ke mana-mana, memikat perhatian siapa saja. Lewat perkembangan komunitas-komunitasnya seperti International Watercolor Society (IWS) yang telah tumbuh subur di berbagai negara, termasuk Indonesia (IWS Indonesia), cat air pun mengglobal.

Di Indonesia sendiri, juga ada Komunitas Lukis Cat Air Indonesia (KOLCAI) yang lebih berskala lokal. Begitu pula di Galeri Nasional Indonesia, cat air  dikembangkan dalam komunitas yang terbentuk melalui program Workshop KamiSketsa GalNas. Meski program ini fokus pada teknik sketsa dan bukannya cat air, namun dalam perkembangannya para peserta program tersebut banyak yang menggunakan cat air dalam karya sketsanya.

Komunitas-komunitas inilah yang secara aktif mempromosikan cat air melalui berbagai aktivitas pameran, workshop, dan jejaring media sosial sebagi media yang paling banyak menarik perhatian. Semakin populernya lukis cat air inilah yang menjadi salah satu pendorong bagi Galeri Nasional Indonesia untuk menggelar sebuah Pameran Lukis Cat Air, sekaligus merayakan Hari Pendidikan Nasional.

Pameran ini merupakan bentuk peran Galeri Nasional Indonesia dalam memfasilitasi publik untuk terlibat dalam proses kreatif dan juga sebagai sarana pembentukan karakter melalui seni rupa. Pameran Hasil Workshop Seni Lukis Cat Air dalam Rangka Hardiknas ini berlangsung 14–19 Mei 2019, di Gedung C Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Pameran ini menampilkan 74 karya lukis cat air hasil olah artistik 64 pelukis cat air Indonesia. Sebagian adalah karya para pelukis cat air yang diundang secara khusus, sebagian lainnya adalah hasil seleksi dari kegiatan Workshop Lukis Cat Air yang telah diselenggarakan sebelumnya.

BACA JUGA :  TARI THENGUL BOJONEGORO

Menilik karya-karya cat air yang dipamerkan secara visual menurut tim Kurator pameran, Bayu Genia Krishbie dan Teguh Margono, karya-karya dalam pameran ini secara visual dapat dikategorikan dalam beberapa tema, yaitu lansdscape, seascape, cityscape, flora fauna, keseharian, tradisi, dan figuratif.

“Dengan konsep tersebut, setidaknya pameran ini mencoba menggambarkan perkembangan seni lukis cat air kini yang semakin mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat. Bisa dikatakan, cat air kini adalah milik semua orang,” kata Teguh.

Melalui presentasi karya-karya lukisan cat air ini, Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto berharap semoga pameran ini dapat memberikan manfaat edukatif bagi publik, terutama tentang eksplorasi media cat air. Selain itu pameran ini diharapkan menjadi sarana untuk mengenal lebih dekat para pelukis cat air Indonesia.

“Semoga perhelatan ini mampu menjadi inspirasi dan motivasi bagi para pelukis cat air khususnya dan bagi publik umumnya untuk terus mengembangkan dan mempertahankan eksistensi lukisan cat air di negeri ini,” pungkasnya.

Ke- 64 pelukis cat air Indonesia kali ini yakni A. Aditya Wahyu P ; Krish Wardana; A.Yuswono Heri Kusworo; Lies Soenoko; Anjar Oki Wibowo; M. Nashir; Aola Romadhona; Maria Junia; Ari Bintoro; Maria Reginalda Alifia; Arief Setiawan; Mariah Nadjida B.; Artyan T.; Meinia Alexandra; Arya Ramaniya; Mita Hapsari; Aryo Bimo; Muhammad Cahya Pramana Putra; Audrey Katherine; Muhammad Ranjis Khan; Aulia L. Nazain; Nadia Mahatmi; Azwan Azmy; Pedro; Bastian A. P.; Putra Murdani; Beng Rahardian; Putri Hermina Utami; Budiman; Rendra Santana; Chandra Purnama; Ridwan; pDania Ade Karlina; Rizki Ayu Ramadhana; Dar Cedhar; Seto Parama Artho; Dedy Suherdi; Silvia Zulaika; Denny Samawa; Soleh Hadiyana; Deskamtoro Dwi Utomo; Sri Daryani; Dhia F. Awanis; Subarkah; Dian Ardianto; Sulan; Donal Saluling; Tessa Revitasari; Duki Noermala; Titiek Sundari; Elvin E.; Toni Malakian; Galih Sekar Winilih; Tunggul Setiawan; Imam Santoso; Widiyanto; Iqbal Amirdha; Wirani Putri R.; Iwan Widodo; Yamiko Musajaya; Joyce J. Widjaja; Yunita Tri Utami; Kedsu; Zamrud Setya Negara.

BACA JUGA :  KOLABORASI ELABORASI SENI PUISI DAN LUKIS PERKAYA KHAZANAH KESENIAN INDONESIA

Praktik melukis cat air tidak lekang oleh zaman. Di masa lalu, cat air digunakan oleh orang Mesir pada media papirus, dan di Cina pada media kain sutra kemudian secara bertahap berkembang menjadi media kertas. Di Eropa lukisan cat air muncul selama periode Renaissance seiring dengan perkembangan teknologi kertas. Sebagaimana sketsa, pada awalnya melukis dengan cat air banyak digunakan seniman sebagai sarana gambar studi tentang alam. Cat yang berbasis air dengan pigmennya yang halus dan mudah larut ini sangat cocok digunakan di manapun, baik on the spot maupun di studio.

Pada abad 18 lukis cat air menjadi populer dan mapan sebagai media artistik dalam seni rupa (Barat). Tokohnya antara lain Paul Sandby (1730–1809) dan J.M.W. Turner (1775–1851). Sebagai penandanya bisa diamati pada pertengahan 1800-an di Inggris mulai terbentuk komunitas-komunitas cat air seperti Society of Painters in Water Colours (1804) dan New Water Color Society (1832).

Kepopuleran ini terus berlanjut sampai abad 20 di mana lukis cat air dapat kita jumpai pada karya-karya seniman profesional seperti John James Audubon, Wassily Kandinsky, Paul Klee, dan lain-lain. Di Indonesia Lee Man Fong, Gusti Solichin, Lian Sahar, Kusnadi, Rusli, Oesman Effendi, Trisno Sumardjo, Mulyadi W. dikenal sebagai seniman-seniman yang banyak mengeksplorasi cat air.

Selain itu, ada juga Mohammad Toha, Mohammad Affandi, Sardjito, Sri Suwarno, dan F.X. Supono Siswosuharto yang pernah menggunakan cat air sebagai medium dokumentasi visual. Saat itu terjadi peristiwa Agresi Militer Belanda ke-II pada Desember 1948 di Yogyakarta. Kelima seniman tersebut yang pada waktu itu masih berusia belasan tahun, dibekali cat air seadanya dan diminta oleh guru mereka yaitu Dullah yang telah menjadi seniman profesional untuk mendokumentasikan peristiwa tersebut. Alhasil, kelima murid Dullah ini menggunakan teknik lukis cat air on the spot untuk membuat dokumentasi visual peristiwa bersejarah tersebut.

BACA JUGA :  GALERI NASIONAL INDONESIA GELAR FESTIVAL SENI RUPA ANAK INDONESIA 'MAIN' DI HARI ANAK NASIONAL 

(YAP; foto dok GNI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *